Wacana-wacana yang
menjadikan “kekurang beranian” atau “kesungkanan” untuk meyakuni keyakunan itu
secara bulat, baik dipraktik maupun diteori (menjadi metode) sebab ada wacana
bahwa “Ibadah harus ikhlas. Tidak boleh beribadah karena dunia-Nya. Harus karena
wajah-Nya semata”.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku,
ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah Alloh, Tuhan semesta alam.” (Q.S
al-An’aam: 162).






